RASIONALISME
A. Latar belakang
Latar belakang munculnya Rasionalisme adalahkeinginan
untuk membebasakan dari segala pemikiran tradisional (skolastik), yang pernah
di terima tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan
yang di hadapi. Apa yang di tanam Aristosteles dalam pemikiran saatitu juga
masih di pengaruhi oleh khayalan-khayalan.[1]
Menurut KBBI Rasinalisme adalah teori
(paham) yg menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk
memecahkan problem (kebenaran) yg lepas dr jangkauan indra; paham yg lebih
mengutamakan (kemampuan) akal dp emosi, atau batin.[2]
Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip, maka
prinsip itu harus “ada”, orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya. Prinsip di anggap sesuatu a-priori,
atau pengalaman, dan karena itu prinsip tidak di kembangkan dari pengalaman,
bahkan sebaliknya, pengalaman hanya dapat di mengerti bila di tinjau dari
prinsip tersebut.[3] Berbagai ahli pikir telah berusaha menyajikan
sebuah gambaran mengenai pengetahuan manusiawi; menurut mereka pengetahuan
tersebut tersusun dari unsur-unsur tunggal (kesan-kesan indrawi) dar beruapa
luapan luapan.
B. Pelopor Rasionalisme dan pemahamnya
1.
Menurut
DR. jalaluddin dan Drs. Abdullah Idi, M,Ed, dalam buku filsafat
pendidikan, Rasionalsme di pelopori oleh Rene Descartes (1595-1650), ia juga penggerak
dan pembaharu pemikiran moderen abad ke-17, menurutnya sumber pengetahuan yang
dapat di jadikan patokan dan dapat di uji kebenarannya adalah rasio, sebab
pengetahuan yang berasal dari proses akal dapat memenuhi syarat-syarat yang
dituntut ilmu pengetahuan ilmiah, dengan demikian dunia pengetahuan bukanlah
utama untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan yang di dapat dari
proses akal. Dalam pendapat yang agak berbeda filosuf Blaise Pascal
(1632-1662), menyatakan akal adalah tumpuan utama dalam menjelajahi pengetahuan untuk menemukan
kebenaran dan dapat memberikan kesanggupan dalam menganalisa bahan (obyek),
tetapi pada sisi lain, akal tidak dapat menemukan pengertian yang sempurna
tanpa adanya keterkaitan atau keterpaduan dengan pengalaman.[4]
2.
Sedangakan menurut Muzairi Mag, dalam
bukunya yang berjudul Filsafat Umum, mengatakan bahwa rasionalisme itu di
pelopori oleh rene descartes pada tahun 1596-1650, yang di sebut bapak filsafat
moderen, ia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu harus satu, tanpa
bandingannya, harus disusun olehsatu orang sebagai bangunan yang berdiri
sendiri menurut satu metode yang unum.[5]
Dalam pemahaman pengarang terdapat perbedaan pemahaman mengenai tahun dan
pemahaman tokoh tentang rasionalisme.
C. Kritik Terhadap Rasionalisme
1.
Pengetahuan rasional di
bentuk oleh idea yang tidak dapat di lihat atau di raba. Eksistensi tentang
idea yang sudah pasti ataupun yang bersifat bawaan itu sendiri belum dapat
dikuatkan oleh semua manusia dengan kekuatan dan keyakinan yang sama. Lebih jauh, terdapat perbedaan pendapat yang
nyata di kamum rasionalis itu sendiri mengenai kebenaran dasar yang menjadi
landasan dalam menalar. Plato, St,
Augustine dan descartes masing-masing mengembangkan teori-teori rasional
sendiri yang masing-masing berbeda.
2.
Banayak di anatara
manusi yang berpikiran jauh merasa bahwa mereka menemukan kesukaran yang besr
dalam menerapkan konsep rasional kepada masalah kehidupan yang praktis.
3.
Teori Rasional gagal
dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini. Banyak
idea yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubah pada waktu yang lain.
Pada suatu saat dalam sejarah, idea bahwa bumi adalah pusat dari sistem matahari
hampir diterima secara umum sebagai suatu pernyataan yang pasti.[6]
Dalam hal ini descartes menginginkan cara yang baru dalam
berpikir maka di perlukan titik tolak pemikiran yang pasti yang dapat di
temukan dalam keragu-raguan Cogito ergo sum (sayaa berpikir maka saya
ada). Jelasnya, bertolak dari keraguan untuk mendapatkan kepastian.
[1] Muzairi Mag, Filsafat Umum,
(Yogyakarta: teras, 2009) hal.132
[2] Kmus Besar Bahasa Indonesia
[3] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu
Dalam Prespektif,(jakarta :P.T. Gramedia Jakarta, 1978) hal.99
[4] DR. jalaluddin dan Drs. Abdullah Idi,
M,Ed, filsafat pendidikan,( Jakarta:Gaya Media Pratama, 1997) hal.57
[5] Ibid. 131
[6] Ibid. 102
Tidak ada komentar:
Posting Komentar