Rabu, 22 Mei 2013

FILSAFAT


RASIONALISME

A.    Latar belakang
Latar belakang munculnya Rasionalisme adalahkeinginan untuk membebasakan dari segala pemikiran tradisional (skolastik), yang pernah di terima tetapi ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang di hadapi. Apa yang di tanam Aristosteles dalam pemikiran saatitu juga masih di pengaruhi oleh khayalan-khayalan.[1]
Menurut KBBI Rasinalisme adalah teori (paham) yg menganggap bahwa pikiran dan akal merupakan satu-satunya dasar untuk memecahkan problem (kebenaran) yg lepas dr jangkauan indra; paham yg lebih mengutamakan (kemampuan) akal dp emosi, atau batin.[2]
Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus “ada”, orang tidak mungkin akan dapat menggambarkannya.  Prinsip di anggap sesuatu a-priori, atau pengalaman, dan karena itu prinsip tidak di kembangkan dari pengalaman, bahkan sebaliknya, pengalaman hanya dapat di mengerti bila di tinjau dari prinsip tersebut.[3]  Berbagai ahli pikir telah berusaha menyajikan sebuah gambaran mengenai pengetahuan manusiawi; menurut mereka pengetahuan tersebut tersusun dari unsur-unsur tunggal (kesan-kesan indrawi) dar beruapa luapan luapan.

B.     Pelopor Rasionalisme dan pemahamnya
1.                       Menurut  DR. jalaluddin dan Drs. Abdullah Idi, M,Ed, dalam buku filsafat pendidikan, Rasionalsme di pelopori oleh Rene Descartes (1595-1650), ia juga penggerak dan pembaharu pemikiran moderen abad ke-17, menurutnya sumber pengetahuan yang dapat di jadikan patokan dan dapat di uji kebenarannya adalah rasio, sebab pengetahuan yang berasal dari proses akal dapat memenuhi syarat-syarat yang dituntut ilmu pengetahuan ilmiah, dengan demikian dunia pengetahuan bukanlah utama untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan yang di dapat dari proses akal. Dalam pendapat yang agak berbeda filosuf Blaise Pascal (1632-1662), menyatakan akal adalah tumpuan utama  dalam menjelajahi pengetahuan untuk menemukan kebenaran dan dapat memberikan kesanggupan dalam menganalisa bahan (obyek), tetapi pada sisi lain, akal tidak dapat menemukan pengertian yang sempurna tanpa adanya keterkaitan atau keterpaduan dengan pengalaman.[4]
2.                       Sedangakan menurut Muzairi Mag, dalam bukunya yang berjudul Filsafat Umum, mengatakan bahwa rasionalisme itu di pelopori oleh rene descartes pada tahun 1596-1650, yang di sebut bapak filsafat moderen, ia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu harus satu, tanpa bandingannya, harus disusun olehsatu orang sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang unum.[5] Dalam pemahaman pengarang terdapat perbedaan pemahaman mengenai tahun dan pemahaman tokoh tentang rasionalisme.
C.     Kritik Terhadap Rasionalisme
1.      Pengetahuan rasional di bentuk oleh idea yang tidak dapat di lihat atau di raba. Eksistensi tentang idea yang sudah pasti ataupun yang bersifat bawaan itu sendiri belum dapat dikuatkan oleh semua manusia dengan kekuatan dan keyakinan yang sama.  Lebih jauh, terdapat perbedaan pendapat yang nyata di kamum rasionalis itu sendiri mengenai kebenaran dasar yang menjadi landasan dalam menalar. Plato, St,  Augustine dan descartes masing-masing mengembangkan teori-teori rasional sendiri yang masing-masing berbeda.
2.      Banayak di anatara manusi yang berpikiran jauh merasa bahwa mereka menemukan kesukaran yang besr dalam menerapkan konsep rasional kepada masalah kehidupan yang praktis.
3.      Teori Rasional gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini. Banyak idea yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubah pada waktu yang lain. Pada suatu saat dalam sejarah, idea bahwa bumi adalah pusat dari sistem matahari hampir diterima secara umum sebagai suatu pernyataan yang pasti.[6]
Dalam hal ini descartes menginginkan cara yang baru dalam berpikir maka di perlukan titik tolak pemikiran yang pasti yang dapat di temukan dalam keragu-raguan Cogito ergo sum (sayaa berpikir maka saya ada). Jelasnya, bertolak dari keraguan untuk mendapatkan kepastian.




[1] Muzairi Mag, Filsafat Umum, (Yogyakarta: teras, 2009) hal.132
[2] Kmus Besar Bahasa Indonesia
[3] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Prespektif,(jakarta :P.T. Gramedia Jakarta, 1978) hal.99
[4] DR. jalaluddin dan Drs. Abdullah Idi, M,Ed, filsafat pendidikan,( Jakarta:Gaya Media Pratama, 1997) hal.57
[5] Ibid. 131
[6] Ibid. 102

Tidak ada komentar:

Posting Komentar